Download GRATIS PDF dan 3 Video Kaya dari Properti TANPA MODAL

Wednesday, May 7, 2008

The Best Is Yet To Come!

Saudaraku,.. dalam artikel terdahulu saya memuat artikel mengenai Steve Jobs yang pernah dipecat dari Apple Inc, mungkin sebagian orang beranggapan bahwa menampilkan figur Steve Jobs terlalu tinggi 'mengawang-awang' karena dia seorang yang jenius dan tidak banyak dari antara kita yang mampu meniru apa yang dia lakukan. oke saya setuju, tapi yang dapat kita tiru adalah semangatnya, kecintaannya pada pekerjaannya.

Saudara,.. kali ini kembali saya memuat artikel dari Bo Sanchez, penulis dan motivator favorit saya. cerita dibawah ini saya harap lebih 'membumi' karena tokohnya adalah orang biasa, sama seperti anda dan saya. Saya sungguh yakin dan percaya semua dari kita pasti bisa menirunya, siapapun anda, apapun agama anda, kalau anda mau, anda pasti bisa melakukannya.



The Best Is Yet To Come!
Seorang Wanita Yang Suaminya Pengangguran Membagikan Kisah Penantiannya…

Saya ingin berbagi satu cerita yang indah dengan Anda. Saya bertemu Yane Pe Benito ketika saya memberi kotbah di perusahaannya. Yane adalah seorang wanita yang menyenangkan yang memiliki kisah yang mengagumkan untuk diceritakan, saya memutuskan untuk menceritakannya pada dunia.
Dua tahun lalu, suami Yane, Beni, tanpa peringatan, kehilangan pekerjaannya. Hal ini menyebabkan rasa sakit dua kali lipat karena pekerjaannya sebenarnya sangat menjanjikan. Selama 6 tahun, Beni sangat menikmati pekerjaannya di sebuah perusahaan distribusi multinasional untuk produk perawatan kulit. Namun karena perubahan struktur organisasi yang terjadi dalam perusahaan tersebut (yang sering terjadi di banyak perusahaan belakangan ini), ia di-PHK.
Yane memutuskan untuk memberitahu berita menyedihkan itu pada kedua anaknya yang masih kecil, Gabriel (6 tahun) dan Marga (4 tahun). Ia memilih dengan hati-hati kata-kata yang akan dipakai untuk menjelaskan hal tersebut. “Anak-anak, kita harus menjaga lebih baik barang-barang kita…dan tidak memboroskan uang kita karena…ayah tidak punya pekerjaan lagi.”
Gabriel kecil berkata, “Maksud ibu, ayah dipecat?” Yane terkejut mendengar kata-kata yang kasar tersebut. “Di mana kamu belajar tentang kata itu?!” Puteranya menjawab tanpa berbelit-belit, “Dari Peter Parker – Spiderman.”
Tapi ya, PHK hanya merupakan kata yang lebih baik dari “Keluar, kami tidak lagi membutuhkanmu di sini.” Kehilangan pekerjaan adalah selalu menyakitkan, sekalipun jika dibarengi dengan “pesangon”. Di satu sisi Yane bersyukur atas “rejeki nomplok” itu, tapi di sisi lain Yane kuatir, menebak-nebak berapa lama keluarga mereka akan hidup dengan bergantung pada pesangon itu.
Beberapa bulan pertama semua berjalan baik; Beni menerima rata-rata dua panggilan interview setiap minggu. Namun beberapa bulan menjadi setahun – dan terus berlanjut, panggilan interview semakin sedikit dan jarang.
Selama hampir dua tahun suaminya menganggur, Yane melalui kegelisahannya sendiri. Sebagai seorang ibu dari dua anak usia sekolah, ia melihat tabungan mereka yang semakin menipis. (Sebagai ukuran, ia pindah dari pekerjaan yang sudah ditekuninya selama 8 tahun, ke pekerjaan yang lebih tinggi bayarannya.)
Tapi di samping dana yang semakin berkurang, ia juga kuatir akan harga diri Beni. Bukan karena Beni tidak mencoba; namun kelihatannya memang tidak banyak kesempatan kerja bagi pria berumur dengan latar belakang dan pengalaman seperti yang dimiliki Beni. Sebenarnya ada dua pekerjaan yang ia terima, tapi keduanya hanya bertahan sebentar. Sebut saja sebuah konflik kepribadian atau ketidak-cocokan, tapi Beni tidak dapat melihat dirinya bekerja lama di sana. Dengan marah, Beni akan keluar lagi.
Dan pernikahan mereka pun mengalami kesulitan, karena sekarang Yanelah yang memberi penghasilan bagi keluarga. “Akankah ego suami saya bertahan selama ini?” ia terus dan terus bertanya pada dirinya sendiri. Semakin waktu berlalu, ia semakin dan semakin kuatir akan Beni.
Yane mulai bertanya pada Tuhan, “Tuhan, saya tidak mengerti apa lagi yang Engkau sedang ajarkan pada kami! Bagaimana lagi kami harus berdoa? Apa lagi yang harus kami doakan?”
Itulah saat ketika Yane menyadari bahwa doa mereka harus lebih spesifik.
Maka ia mengumpulkan kedua anaknya dan berkata, “Mari berdoa bagi ayah, agar ia dapat menemukan suatu pekerjaan yang baik dengan seorang atasan yang baik – seseorang yang seperti atasannya di perusahaan yang dulu.”
Dan itu menjadi doa spesifik keluarga tersebut. “Tuhan, tolong ayah untuk mendapatkan seorang atasan yang baik seperti atasannya dulu, dalam nama Yesus.”
Suatu hari, sekitar setahun lalu dari hari ini, Yane pulang dari kerja dan melihat kedua anak dan suaminya sedang berdempetan sambil membungkuk. “Ada apa ini?” tanyanya.
Ia mendengar anak-anaknya berbisik dengan gembiranya, “Tunjukkan pada ibu sekarang!”
Beni menyodorkan sebuah amplop coklat padanya.
Yane pikir itu adalah sesuatu dari sekolah anak-anak.
Tapi bukan. Dengan perlahan ia menarik keluar secarik kertas dari amplop itu, ia membaca nama perusahaan…kemudian jabatan suaminya…dan gajinya… Sampai di sini, ia mengangguk puas.
Namun ketika ia sampai ke bagian bawah kertas tersebut, ia kaget setengah mati. Karena ada sebuah tanda tangan. Tanda tangan milik atasan favorit Beni!
Diiringin tatapan heran anak-anaknya, Yane mulai menangis dan tertawa pada saat yang bersamaan. Ia sangat sulit untuk mempercayai ini! Seperti seorang anak, ia melompat-lompat kesenangan, dan disambut gembira oleh kedua anaknya yang ikut melompat dan tertawa bersamanya.
Gabriel bertanya pada ibunya, “Ibu, mengapa engkau menangis dan tertawa pada saat yang bersamaan?”
Yane melihat kesempatan bagus untuk menjelaskan, “Ibu menangis karena ibu begitu bahagia. Ingatkah bagaimana kamu berdoa untuk seorang atasan yang baik bagi ayah? Lihatlah nama ini,” ia menunjuk kertas yang masih ia pegang. “Kita hanya meminta seorang atasan yang seperti atasan ayah yang dulu. Tapi, Tuhan memberi ayah seorang atasan yang persis sama! Ia menjawab doa-doa kita!”
Saat itulah Gabriel mulai menangis.
“Mengapa kamu menangis?” tanya Yane.
“Karena aku juga sangat bahagia,” kata anak laki kecil itu, dan seluruh keluarga saling berpelukan.
Ketika Yane menceritakan kisah ini, saya tahu saya harus berbagi cerita ini dengan Anda.
Karena semua kita melalui banyak kesulitan dan kehilangan.
Kita kehilangan pekerjaan kita, kita kehilangan orang-orang yang kita kasihi, kita kehilangan uang kita, kita kehilangan sahabat-sahabat kita… Dan seringkali, kita menanti dan menanti agar rasa sakit ini hilang, agar rasa kehilangan ini menjadi sembuh. Kadang-kadang, kita menanti selama waktu yang panjang. (Yane dan Beni harus menunggu selama dua tahun.)
Namun pada akhirnya, saya percaya kalau Tuhan telah menyiapkan berkat terbaik bagi Anda.
Berimanlah. Percaya. Yang terbaik akan datang!

Sahabatmu,
Bo Sanchez

Sumber :http://groups.google.co.id/group/milis-bo-sanchez/web/the-best-is-yet-to-come

Sunday, May 4, 2008

Steve Jobs ternyata pernah dipecat dari Apple inc

Apakah saudara pernah mengalami nasib buruk, dipecat dari perusahaan tempat anda bekerja? apa yang saudara lakukan? beberapa segera mencari pekerjaan baru tetapi tidak sedikit pula yang tidak bisa berbuat apa-apa, tenggelam dalam keputus-asaan dll. saudaraku,.. wajar saja kalau kita merasa marah, kecewa dan malu bila mengalami hal buruk semacam itu, tetapi kita tidak boleh berlarut-larut dalam kondisi itu, kita harus segera bangkit dan bertindak! ya segera bertindak! dan jangan berkecil hati, ternyata Steve Jobs juga pernah dipecat bahkan dipecat dari Perusahaan yang dia dirikan sendiri. Coba simak artikel dibawah ini dan mari kita belajar dari pengalaman Steve Jobs, bagaimana ia berhasil merebut kembali apple inc. perusahaan miliknya.

Steve Jobs adalah satu dari sekian nama entrepreneur sukses
yang dropped out dari universitas, selain Bill Gates dari
MicroSoft Inc. dan Michael Dell dari Dell Computer Corp. Ia
memutuskan keluar dari Reed College karena kasihan pada
orang tua angkatnya yang harus membiayai pendidikannya yang
mahal.

Di usia 20 tahunan, ia dan Steven Wozniak membangun cikal
bakal komputer Macintosh di garasi rumah orang tuanya. Di
tahun 1976, mereka berhasil mempopulerkan konsep personal
computer pada dunia. Dan dalam 10 tahun, dua sekawan ini
berhasil membangun Apple menjadi perusahaan beraset 2
miliar dollar dan memiliki lebih dari 4.000 karyawan.

Tetapi di saat ia berumur 30 tahun, Jobs harus menerima
kenyataan pahit. Ia dipecat oleh Board of Director dari
perusahaan yang didirikannya, karena kegagalan visinya dan
kejatuhan Apple di kala itu.

Ketika itu Jobs merasa hancur, malu, impiannya hilang dan
tidak mampu melakukan apa-apa selama berbulan-bulan. Sampai
kemudian ia bertemu dengan David Packard dan Bob Noyce, ia
pun mencoba memaafkan kesalahan-kesalahan yang pernah
diperbuatnya.

Tapi ada satu yang tak berubah, walaupun ia pernah ditolak,
Jobs masih mencintai, bahkan sangat mencintai apa yang
dikerjakannya. Maka ia pun berusaha untuk bangkit, memulai
segala sesuatunya dari awal lagi.

Lima tahun kemudian, Jobs mendirikan perusahaan Pixar
Animation Studios yang membuat film animasi komputer
pertama di dunia -“Toy Story”- dan berhasil memenangkan
penghargaan Oscar sebagai film animasi terbaik. Dan tak
lama kemudian ia bertemu dan jatuh cinta dengan perempuan
yang kini menjadi istrinya.

Beberapa waktu kemudian, Apple membeli Pixar dan Jobs pun
kembali menduduki jabatannya di perusahaan yang dulu ia
dirikan. Sedangkan teknologi yang ia bangun di Pixar
menjadi jantung kebangkitan Apple di masa kini.

Apple menjadi pemimpin inovasi dalam industri dekstop dan
notebook, operating system, musik digital –dengan perangkat
iPod dan iTunes, toko musik online-.

Sedangkan Pixar menjadi penghasil film-film animasi box office
dan pemenang Oscar, seperti Toy Story, A Bug’s Life,
Monsters Inc., Finding Nemo dan The Incredibles.

Kini Steve Jobs bisa berkata bahwa pernah dipecat dari
Apple adalah hal terbaik yang pernah terjadi pada dirinya.
Ibarat meminum sebuah pil pahit. Tetapi apa yang membuat
Jobs bangkit dan terus maju adalah keyakinan dan
kecintaannya pada apa yang ia kerjakan. Karena bagi Jobs,
itu adalah satu-satunya cara mendapatkan hasil pekerjaan
yang terbaik.

Friday, May 2, 2008

DON'T LIMIT YOURSELF

Saudara,... tanpa disadari kita sering membatasi diri sendiri, padahal didalam diri kita tersimpan potensi yang luar biasa besar. Sadarkah saudara sebenarnya saudara dilahirkan sebagai seorang pemenang? Dalam proses sebelum terbentuknya janin (cikal-bakal diri kita) dalam rahim Ibu, kita terlebih dahulu bersaing dengan jutaan 'kompetitor' lainnya untuk dapat menjangkau indung telur dan membuahinya; konon menurut keterangan para ahli kedokteran, yang berhasil 'membuahi' itu cuma satu dari jutaan spermatozoa, dan selamat!! itu adalah anda. Maka kalau sekarang kita belum apa-apa sudah menyerah kalah dalam 'pertandingan hidup' didunia ini, maka sesungguhnya kita patut merenungkan kembali dengan lebih serius; apa sebenarnya maksud Tuhan mengijinkan kita terlahir kedunia ini?. Saya yakin dan percaya bahwa Tuhan menginginkan agar kita dapat mensyukuri segala berkat dan rahmat yang DIA berikan dan mengusahakan agar hidup kita lebih bermakna. salah satu bentuk rasa syukur itu adalah dengan mengopimalkan segala potensi diri dan talenta agar membawa manfaat sebesar-besarnya, tidak saja bagi diri sendiri tapi lebih-lebih bermanfaat bagi orang-orang disekitar kita... Bloggers,... sebaiknya baca aja deh artikelnya Bo Sanchez berikut ini.


JANGAN BATASI DIRI ANDA

Ukuran Anda Tidak Masalah;
Yang Jadi Soal Adalah Ukuran Impian Anda


Saya baru saja membaca biografi John Gokongwei, The Path of
Entrepreneurship.

Suatu kisah yang sulit dipercaya.

Tahukah Anda bahwa di ulang tahunnya yang ke-80, ia mendermakan
separuh dari milyaran miliknya untuk amal? Saya ingin melakukan hal
yang sama persis ketika saya berusia 80. (Saya masih punya waktu
beberapa tahun untuk menghasilkan milyaran saya.)

Beberapa minggu lalu, saya mengunjungi Universitas San Carlos di Cebu.

Saya melihat dengan mata kepala sendiri sebuah bangunan sekolah yang
indah dan besar sekali yang didonasikan oleh John Gokongwei - seharga
150 juta Peso. Ia juga mendonasikan beberapa bangunan kepada Ateneo
de Manila dan Sekolah Hati Kudus di Cebu.

Lumayan bagi seorang pria yang biasa menjual kacang di halaman
belakang rumahnya.

Sebenarnya, John Gokongwei terlahir di sebuah keluarga kaya. Ayahnya
memiliki serentetan bioskop. Seorang supir pribadi mengantarnya ke
sekolah. Dan di sekolah, ia memiliki banyak sekali teman karena ia
akan mengundang mereka untuk menonton film gratis.

Tapi ketika ia berusia 13, ayahnya meninggal secara mendadak karena
sakit thypus. Karena kejayaan ayahnya dibangun atas hutang, mereka
kehilangan segalanya - semua bisnis, rumah, semua mobil...

"Ketika tak ada lagi nonton gratis, saya kehilangan separuh dari teman-
teman saya," katanya.

Ketika John harus berjalan sejauh 2 mil ke sekolah untuk pertama
kalinya, ia mengadu sambil menangis pada ibunya. Tapi ibunya berkata,
"Kamu harus merasa beruntung. Beberapa orang tidak punya sepatu untuk
berjalan ke sekolah."

John yang baru berusia 13 tahun terpaksa harus bekerja.

Ia bangun pukul 5 pagi untuk mengendarai sepeda ke pasar dengan
sekeranjang barang dagangan. Di sana ia memasang meja kecil untuk
menjual sabun, lilin, dan benang.

Di Tahun 1943, ia memperluas bisnisnya. Dari Cebu, ia akan melakukan
perjalanan melelahkan dengan sebuah kapal kecil yang disebut batel ke
Manila. Itu merupakan perjalanan selama lima hari! Dan di Manila, ia
akan membeli barang-barang yang dapat ia bawa untuk dijual di Cebu.

Secara cepat, saat ini John Gokongwei memimpin sebuah imperium multi-
mliyaran yang terdiri dari Cebu Pacific, Sun Cellular, Universal
Robina, Robinsons mal (yang jumlahnya lebih dari satu), dan sebagai
tuan rumah bagi perusahaan-perusahaan lain. (Saya suka cemilan Jack n
Jill, karena itu saya adalah seorang penggemar.)
Bagaimana hal itu terjadi? Bagaimana bisa Cebu Pacific (maskapai
penerbangan yang membuat harga tiket penerbangan menjadi sangat
terjangkau) dimulai dari menjual kacang? Bagaimana bisa mal-mal
Robinsons dimulai dari sebuah meja kecil di pasar?

Sederhana: John Gokongwei memulai hal kecil namun mempunyai impian
besar. Impiannya begitu kuat, hingga hal itu memotori kehidupannya
sehari-hari. Ia bekerja keras untuk membuat impiannya menjadi
kenyataan.

Dan itu merupakan sebuah prinsip umum yang dapat Anda kembangkan.

Apakah Anda ingin menjadi sukses dalam hidup?

Mulai hal kecil, punya impian besar.

1) Mulai Hal Kecil

Saya kenal seorang yang sangat tidak sabar yang melakukan hal
sebaliknya: Ia senang memulai sesuatu yang besar. Saya melihat pria
ini setiap hari. Kapan? Ketika saya bercermin!

Ya, inilah kelemahan saya, dan saya telah membayar mahal untuk itu.
Tapi saya belajar dari pengalaman. Inilah alasan mengapa kita perlu
memulai dari yang kecil: Karena di awal masa pembelajaran kita, kita
akan gagal. Anda bisa jadi mempertaruhkan hidup Anda untuk itu.
Pemula akan gagal, titik. Namun jika kita mulai dari yang kecil,
kegagalan kita tidak akan menghancurkan kita. Tapi jika kita langsung
memulai yang besar, kegagalan kita akan besar juga, dan kita mungkin
akan menyerah. Percayalah, dalam bisnis saya, saya telah kehilangan
jutaan karena saya tidak tahu bagaimana memulai dari kecil. Saya
tidak akan lupa pelajaran ini karena biaya les yang saya keluarkan
sangat mahal!

2) Miliki Impian Besar

Saya kenal beberapa orang yang mempunyai impian-impian sederhana.

Dan impian-impian sederhana ini tidak terjadi. Karena sejak awal,
mereka tidak cukup semangat. Bahkan mereka tidak sempat 'lepas
landas'.

Ini yang saya temukan: Impian kecil memikat orang kecil. Impian besar
memikat orang besar. Dan juga semua sumber daya besar yang ada di
jagat raya.

Dalam pelayanan saya bagi Tuhan, saya belajar bahwa lebih mudah untuk
mengumpulkan dana 1 juta Peso daripada 100.000 Peso. Dan lebih mudah
untuk mengumpulkan 10 juta Peso daripada 1 juta Peso.


Teman, ukuran Anda tidak masalah.

Yang jadi soal adalah ukuran impian Anda.

Sebagaimana Anda bekerja dan berfokus pada impian Anda, Anda bertumbuh
menjadi sebesar impian Anda.

Sebagaimana Anda menumbuhkan impian Anda, Anda juga akan terus
bertumbuh.

Sebagaimana Anda mengembangkan impian Anda, Anda juga akan terus
berkembang.


Semoga impian Anda menjadi kenyataan,
BO SANCHEZ

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------