Saudara,.. beberapa hari terakhir saya memuat artikel-artikel motivasi yang kiranya berguna untuk memompa semangat kita semua untuk bekerja, berusaha dan berdoa agar mencapai hasil terbaik dalam mewujudkan cita-cita dan impian hidup kita.
Dalam salahsatu artikel Bo Sanchez yang saya muat terdahulu, dikatakan bahwa kalau memulai sesuatu yang baru, hendaknya kita mulai dari sesuatu (modal)yang kecil; karena kita masih baru dan belum berpengalaman, ada kemungkinan apa yang kita kerjakan mengalami kegagalan, namun karena kita memulainya dari sesuatu yang kecil maka kerugian yang kita derita tidak sampai mengganggu arus kas kita.
Dewasa ini di Internet banyak sekali penawaran-penawaran bisnis yang bisa dilakukan dari rumah atau istilahnya "home based business"; ada ratusan bahkan ribuan jenis pekerjaan dan juga ribuan Perusahaan yang bergerak dibidang ini. Ada yang menawarkan discount fee sampai 50% bahkan ada yang menawarkan free of charge alias gratis 100%untuk dapat menjadi members atau affiliate mereka. Salah satu yang ingin saya perkenalkan adalah www.inboxdollars.com yang menawarkan program "baca email" dapat dollar bahkan anda baru daftar saja sudah dibayar $5 !!
Kalau Bo Sanchez menganjurkan memulai sesuatu dari "modal kecil" kenapa kita tidak mencoba memulai sesuatu "dengan gratis"?? bahkan kalau ada yang langsung kasih dollar, menarik bukan?? Program yang ditawarkan sangat mudah, tinggal mengisi form pendaftaran dengan lengkap dan benar, dalam se-persekian detik kita sudah menjadi members dan $5 langsung di kredit kedalam account kita. sangat mudah dan tanpa resiko! lalu kalau ingin memperkenalkan kepada teman kita tinggal isi namanya dan alamat emailnya dan send, maka secara otomatis teman kita menerima email yang berisi pesan promosi-ajakan untuk berganbung, tanpa kita perlu menuliskan sendiri isi pesannya. praktis dan mudah. ingin mencoba? klik kotak inboxdollars yang ada disamping kiri layar komputer anda. jangan tunda-tunda sobat "masa depan anda" adalah "sekarang" bertindaklah!! 100% free!!
Sunday, May 11, 2008
Wednesday, May 7, 2008
The Best Is Yet To Come!
Saudaraku,.. dalam artikel terdahulu saya memuat artikel mengenai Steve Jobs yang pernah dipecat dari Apple Inc, mungkin sebagian orang beranggapan bahwa menampilkan figur Steve Jobs terlalu tinggi 'mengawang-awang' karena dia seorang yang jenius dan tidak banyak dari antara kita yang mampu meniru apa yang dia lakukan. oke saya setuju, tapi yang dapat kita tiru adalah semangatnya, kecintaannya pada pekerjaannya.
Saudara,.. kali ini kembali saya memuat artikel dari Bo Sanchez, penulis dan motivator favorit saya. cerita dibawah ini saya harap lebih 'membumi' karena tokohnya adalah orang biasa, sama seperti anda dan saya. Saya sungguh yakin dan percaya semua dari kita pasti bisa menirunya, siapapun anda, apapun agama anda, kalau anda mau, anda pasti bisa melakukannya.
The Best Is Yet To Come!
Seorang Wanita Yang Suaminya Pengangguran Membagikan Kisah Penantiannya…
Saya ingin berbagi satu cerita yang indah dengan Anda. Saya bertemu Yane Pe Benito ketika saya memberi kotbah di perusahaannya. Yane adalah seorang wanita yang menyenangkan yang memiliki kisah yang mengagumkan untuk diceritakan, saya memutuskan untuk menceritakannya pada dunia.
Dua tahun lalu, suami Yane, Beni, tanpa peringatan, kehilangan pekerjaannya. Hal ini menyebabkan rasa sakit dua kali lipat karena pekerjaannya sebenarnya sangat menjanjikan. Selama 6 tahun, Beni sangat menikmati pekerjaannya di sebuah perusahaan distribusi multinasional untuk produk perawatan kulit. Namun karena perubahan struktur organisasi yang terjadi dalam perusahaan tersebut (yang sering terjadi di banyak perusahaan belakangan ini), ia di-PHK.
Yane memutuskan untuk memberitahu berita menyedihkan itu pada kedua anaknya yang masih kecil, Gabriel (6 tahun) dan Marga (4 tahun). Ia memilih dengan hati-hati kata-kata yang akan dipakai untuk menjelaskan hal tersebut. “Anak-anak, kita harus menjaga lebih baik barang-barang kita…dan tidak memboroskan uang kita karena…ayah tidak punya pekerjaan lagi.”
Gabriel kecil berkata, “Maksud ibu, ayah dipecat?” Yane terkejut mendengar kata-kata yang kasar tersebut. “Di mana kamu belajar tentang kata itu?!” Puteranya menjawab tanpa berbelit-belit, “Dari Peter Parker – Spiderman.”
Tapi ya, PHK hanya merupakan kata yang lebih baik dari “Keluar, kami tidak lagi membutuhkanmu di sini.” Kehilangan pekerjaan adalah selalu menyakitkan, sekalipun jika dibarengi dengan “pesangon”. Di satu sisi Yane bersyukur atas “rejeki nomplok” itu, tapi di sisi lain Yane kuatir, menebak-nebak berapa lama keluarga mereka akan hidup dengan bergantung pada pesangon itu.
Beberapa bulan pertama semua berjalan baik; Beni menerima rata-rata dua panggilan interview setiap minggu. Namun beberapa bulan menjadi setahun – dan terus berlanjut, panggilan interview semakin sedikit dan jarang.
Selama hampir dua tahun suaminya menganggur, Yane melalui kegelisahannya sendiri. Sebagai seorang ibu dari dua anak usia sekolah, ia melihat tabungan mereka yang semakin menipis. (Sebagai ukuran, ia pindah dari pekerjaan yang sudah ditekuninya selama 8 tahun, ke pekerjaan yang lebih tinggi bayarannya.)
Tapi di samping dana yang semakin berkurang, ia juga kuatir akan harga diri Beni. Bukan karena Beni tidak mencoba; namun kelihatannya memang tidak banyak kesempatan kerja bagi pria berumur dengan latar belakang dan pengalaman seperti yang dimiliki Beni. Sebenarnya ada dua pekerjaan yang ia terima, tapi keduanya hanya bertahan sebentar. Sebut saja sebuah konflik kepribadian atau ketidak-cocokan, tapi Beni tidak dapat melihat dirinya bekerja lama di sana. Dengan marah, Beni akan keluar lagi.
Dan pernikahan mereka pun mengalami kesulitan, karena sekarang Yanelah yang memberi penghasilan bagi keluarga. “Akankah ego suami saya bertahan selama ini?” ia terus dan terus bertanya pada dirinya sendiri. Semakin waktu berlalu, ia semakin dan semakin kuatir akan Beni.
Yane mulai bertanya pada Tuhan, “Tuhan, saya tidak mengerti apa lagi yang Engkau sedang ajarkan pada kami! Bagaimana lagi kami harus berdoa? Apa lagi yang harus kami doakan?”
Itulah saat ketika Yane menyadari bahwa doa mereka harus lebih spesifik.
Maka ia mengumpulkan kedua anaknya dan berkata, “Mari berdoa bagi ayah, agar ia dapat menemukan suatu pekerjaan yang baik dengan seorang atasan yang baik – seseorang yang seperti atasannya di perusahaan yang dulu.”
Dan itu menjadi doa spesifik keluarga tersebut. “Tuhan, tolong ayah untuk mendapatkan seorang atasan yang baik seperti atasannya dulu, dalam nama Yesus.”
Suatu hari, sekitar setahun lalu dari hari ini, Yane pulang dari kerja dan melihat kedua anak dan suaminya sedang berdempetan sambil membungkuk. “Ada apa ini?” tanyanya.
Ia mendengar anak-anaknya berbisik dengan gembiranya, “Tunjukkan pada ibu sekarang!”
Beni menyodorkan sebuah amplop coklat padanya.
Yane pikir itu adalah sesuatu dari sekolah anak-anak.
Tapi bukan. Dengan perlahan ia menarik keluar secarik kertas dari amplop itu, ia membaca nama perusahaan…kemudian jabatan suaminya…dan gajinya… Sampai di sini, ia mengangguk puas.
Namun ketika ia sampai ke bagian bawah kertas tersebut, ia kaget setengah mati. Karena ada sebuah tanda tangan. Tanda tangan milik atasan favorit Beni!
Diiringin tatapan heran anak-anaknya, Yane mulai menangis dan tertawa pada saat yang bersamaan. Ia sangat sulit untuk mempercayai ini! Seperti seorang anak, ia melompat-lompat kesenangan, dan disambut gembira oleh kedua anaknya yang ikut melompat dan tertawa bersamanya.
Gabriel bertanya pada ibunya, “Ibu, mengapa engkau menangis dan tertawa pada saat yang bersamaan?”
Yane melihat kesempatan bagus untuk menjelaskan, “Ibu menangis karena ibu begitu bahagia. Ingatkah bagaimana kamu berdoa untuk seorang atasan yang baik bagi ayah? Lihatlah nama ini,” ia menunjuk kertas yang masih ia pegang. “Kita hanya meminta seorang atasan yang seperti atasan ayah yang dulu. Tapi, Tuhan memberi ayah seorang atasan yang persis sama! Ia menjawab doa-doa kita!”
Saat itulah Gabriel mulai menangis.
“Mengapa kamu menangis?” tanya Yane.
“Karena aku juga sangat bahagia,” kata anak laki kecil itu, dan seluruh keluarga saling berpelukan.
Ketika Yane menceritakan kisah ini, saya tahu saya harus berbagi cerita ini dengan Anda.
Karena semua kita melalui banyak kesulitan dan kehilangan.
Kita kehilangan pekerjaan kita, kita kehilangan orang-orang yang kita kasihi, kita kehilangan uang kita, kita kehilangan sahabat-sahabat kita… Dan seringkali, kita menanti dan menanti agar rasa sakit ini hilang, agar rasa kehilangan ini menjadi sembuh. Kadang-kadang, kita menanti selama waktu yang panjang. (Yane dan Beni harus menunggu selama dua tahun.)
Namun pada akhirnya, saya percaya kalau Tuhan telah menyiapkan berkat terbaik bagi Anda.
Berimanlah. Percaya. Yang terbaik akan datang!
Sahabatmu,
Bo Sanchez
Sumber :http://groups.google.co.id/group/milis-bo-sanchez/web/the-best-is-yet-to-come
Saudara,.. kali ini kembali saya memuat artikel dari Bo Sanchez, penulis dan motivator favorit saya. cerita dibawah ini saya harap lebih 'membumi' karena tokohnya adalah orang biasa, sama seperti anda dan saya. Saya sungguh yakin dan percaya semua dari kita pasti bisa menirunya, siapapun anda, apapun agama anda, kalau anda mau, anda pasti bisa melakukannya.
The Best Is Yet To Come!
Seorang Wanita Yang Suaminya Pengangguran Membagikan Kisah Penantiannya…
Saya ingin berbagi satu cerita yang indah dengan Anda. Saya bertemu Yane Pe Benito ketika saya memberi kotbah di perusahaannya. Yane adalah seorang wanita yang menyenangkan yang memiliki kisah yang mengagumkan untuk diceritakan, saya memutuskan untuk menceritakannya pada dunia.
Dua tahun lalu, suami Yane, Beni, tanpa peringatan, kehilangan pekerjaannya. Hal ini menyebabkan rasa sakit dua kali lipat karena pekerjaannya sebenarnya sangat menjanjikan. Selama 6 tahun, Beni sangat menikmati pekerjaannya di sebuah perusahaan distribusi multinasional untuk produk perawatan kulit. Namun karena perubahan struktur organisasi yang terjadi dalam perusahaan tersebut (yang sering terjadi di banyak perusahaan belakangan ini), ia di-PHK.
Yane memutuskan untuk memberitahu berita menyedihkan itu pada kedua anaknya yang masih kecil, Gabriel (6 tahun) dan Marga (4 tahun). Ia memilih dengan hati-hati kata-kata yang akan dipakai untuk menjelaskan hal tersebut. “Anak-anak, kita harus menjaga lebih baik barang-barang kita…dan tidak memboroskan uang kita karena…ayah tidak punya pekerjaan lagi.”
Gabriel kecil berkata, “Maksud ibu, ayah dipecat?” Yane terkejut mendengar kata-kata yang kasar tersebut. “Di mana kamu belajar tentang kata itu?!” Puteranya menjawab tanpa berbelit-belit, “Dari Peter Parker – Spiderman.”
Tapi ya, PHK hanya merupakan kata yang lebih baik dari “Keluar, kami tidak lagi membutuhkanmu di sini.” Kehilangan pekerjaan adalah selalu menyakitkan, sekalipun jika dibarengi dengan “pesangon”. Di satu sisi Yane bersyukur atas “rejeki nomplok” itu, tapi di sisi lain Yane kuatir, menebak-nebak berapa lama keluarga mereka akan hidup dengan bergantung pada pesangon itu.
Beberapa bulan pertama semua berjalan baik; Beni menerima rata-rata dua panggilan interview setiap minggu. Namun beberapa bulan menjadi setahun – dan terus berlanjut, panggilan interview semakin sedikit dan jarang.
Selama hampir dua tahun suaminya menganggur, Yane melalui kegelisahannya sendiri. Sebagai seorang ibu dari dua anak usia sekolah, ia melihat tabungan mereka yang semakin menipis. (Sebagai ukuran, ia pindah dari pekerjaan yang sudah ditekuninya selama 8 tahun, ke pekerjaan yang lebih tinggi bayarannya.)
Tapi di samping dana yang semakin berkurang, ia juga kuatir akan harga diri Beni. Bukan karena Beni tidak mencoba; namun kelihatannya memang tidak banyak kesempatan kerja bagi pria berumur dengan latar belakang dan pengalaman seperti yang dimiliki Beni. Sebenarnya ada dua pekerjaan yang ia terima, tapi keduanya hanya bertahan sebentar. Sebut saja sebuah konflik kepribadian atau ketidak-cocokan, tapi Beni tidak dapat melihat dirinya bekerja lama di sana. Dengan marah, Beni akan keluar lagi.
Dan pernikahan mereka pun mengalami kesulitan, karena sekarang Yanelah yang memberi penghasilan bagi keluarga. “Akankah ego suami saya bertahan selama ini?” ia terus dan terus bertanya pada dirinya sendiri. Semakin waktu berlalu, ia semakin dan semakin kuatir akan Beni.
Yane mulai bertanya pada Tuhan, “Tuhan, saya tidak mengerti apa lagi yang Engkau sedang ajarkan pada kami! Bagaimana lagi kami harus berdoa? Apa lagi yang harus kami doakan?”
Itulah saat ketika Yane menyadari bahwa doa mereka harus lebih spesifik.
Maka ia mengumpulkan kedua anaknya dan berkata, “Mari berdoa bagi ayah, agar ia dapat menemukan suatu pekerjaan yang baik dengan seorang atasan yang baik – seseorang yang seperti atasannya di perusahaan yang dulu.”
Dan itu menjadi doa spesifik keluarga tersebut. “Tuhan, tolong ayah untuk mendapatkan seorang atasan yang baik seperti atasannya dulu, dalam nama Yesus.”
Suatu hari, sekitar setahun lalu dari hari ini, Yane pulang dari kerja dan melihat kedua anak dan suaminya sedang berdempetan sambil membungkuk. “Ada apa ini?” tanyanya.
Ia mendengar anak-anaknya berbisik dengan gembiranya, “Tunjukkan pada ibu sekarang!”
Beni menyodorkan sebuah amplop coklat padanya.
Yane pikir itu adalah sesuatu dari sekolah anak-anak.
Tapi bukan. Dengan perlahan ia menarik keluar secarik kertas dari amplop itu, ia membaca nama perusahaan…kemudian jabatan suaminya…dan gajinya… Sampai di sini, ia mengangguk puas.
Namun ketika ia sampai ke bagian bawah kertas tersebut, ia kaget setengah mati. Karena ada sebuah tanda tangan. Tanda tangan milik atasan favorit Beni!
Diiringin tatapan heran anak-anaknya, Yane mulai menangis dan tertawa pada saat yang bersamaan. Ia sangat sulit untuk mempercayai ini! Seperti seorang anak, ia melompat-lompat kesenangan, dan disambut gembira oleh kedua anaknya yang ikut melompat dan tertawa bersamanya.
Gabriel bertanya pada ibunya, “Ibu, mengapa engkau menangis dan tertawa pada saat yang bersamaan?”
Yane melihat kesempatan bagus untuk menjelaskan, “Ibu menangis karena ibu begitu bahagia. Ingatkah bagaimana kamu berdoa untuk seorang atasan yang baik bagi ayah? Lihatlah nama ini,” ia menunjuk kertas yang masih ia pegang. “Kita hanya meminta seorang atasan yang seperti atasan ayah yang dulu. Tapi, Tuhan memberi ayah seorang atasan yang persis sama! Ia menjawab doa-doa kita!”
Saat itulah Gabriel mulai menangis.
“Mengapa kamu menangis?” tanya Yane.
“Karena aku juga sangat bahagia,” kata anak laki kecil itu, dan seluruh keluarga saling berpelukan.
Ketika Yane menceritakan kisah ini, saya tahu saya harus berbagi cerita ini dengan Anda.
Karena semua kita melalui banyak kesulitan dan kehilangan.
Kita kehilangan pekerjaan kita, kita kehilangan orang-orang yang kita kasihi, kita kehilangan uang kita, kita kehilangan sahabat-sahabat kita… Dan seringkali, kita menanti dan menanti agar rasa sakit ini hilang, agar rasa kehilangan ini menjadi sembuh. Kadang-kadang, kita menanti selama waktu yang panjang. (Yane dan Beni harus menunggu selama dua tahun.)
Namun pada akhirnya, saya percaya kalau Tuhan telah menyiapkan berkat terbaik bagi Anda.
Berimanlah. Percaya. Yang terbaik akan datang!
Sahabatmu,
Bo Sanchez
Sumber :http://groups.google.co.id/group/milis-bo-sanchez/web/the-best-is-yet-to-come
Sunday, May 4, 2008
Steve Jobs ternyata pernah dipecat dari Apple inc
Apakah saudara pernah mengalami nasib buruk, dipecat dari perusahaan tempat anda bekerja? apa yang saudara lakukan? beberapa segera mencari pekerjaan baru tetapi tidak sedikit pula yang tidak bisa berbuat apa-apa, tenggelam dalam keputus-asaan dll. saudaraku,.. wajar saja kalau kita merasa marah, kecewa dan malu bila mengalami hal buruk semacam itu, tetapi kita tidak boleh berlarut-larut dalam kondisi itu, kita harus segera bangkit dan bertindak! ya segera bertindak! dan jangan berkecil hati, ternyata Steve Jobs juga pernah dipecat bahkan dipecat dari Perusahaan yang dia dirikan sendiri. Coba simak artikel dibawah ini dan mari kita belajar dari pengalaman Steve Jobs, bagaimana ia berhasil merebut kembali apple inc. perusahaan miliknya.
Steve Jobs adalah satu dari sekian nama entrepreneur sukses
yang dropped out dari universitas, selain Bill Gates dari
MicroSoft Inc. dan Michael Dell dari Dell Computer Corp. Ia
memutuskan keluar dari Reed College karena kasihan pada
orang tua angkatnya yang harus membiayai pendidikannya yang
mahal.
Di usia 20 tahunan, ia dan Steven Wozniak membangun cikal
bakal komputer Macintosh di garasi rumah orang tuanya. Di
tahun 1976, mereka berhasil mempopulerkan konsep personal
computer pada dunia. Dan dalam 10 tahun, dua sekawan ini
berhasil membangun Apple menjadi perusahaan beraset 2
miliar dollar dan memiliki lebih dari 4.000 karyawan.
Tetapi di saat ia berumur 30 tahun, Jobs harus menerima
kenyataan pahit. Ia dipecat oleh Board of Director dari
perusahaan yang didirikannya, karena kegagalan visinya dan
kejatuhan Apple di kala itu.
Ketika itu Jobs merasa hancur, malu, impiannya hilang dan
tidak mampu melakukan apa-apa selama berbulan-bulan. Sampai
kemudian ia bertemu dengan David Packard dan Bob Noyce, ia
pun mencoba memaafkan kesalahan-kesalahan yang pernah
diperbuatnya.
Tapi ada satu yang tak berubah, walaupun ia pernah ditolak,
Jobs masih mencintai, bahkan sangat mencintai apa yang
dikerjakannya. Maka ia pun berusaha untuk bangkit, memulai
segala sesuatunya dari awal lagi.
Lima tahun kemudian, Jobs mendirikan perusahaan Pixar
Animation Studios yang membuat film animasi komputer
pertama di dunia -Toy Story- dan berhasil memenangkan
penghargaan Oscar sebagai film animasi terbaik. Dan tak
lama kemudian ia bertemu dan jatuh cinta dengan perempuan
yang kini menjadi istrinya.
Beberapa waktu kemudian, Apple membeli Pixar dan Jobs pun
kembali menduduki jabatannya di perusahaan yang dulu ia
dirikan. Sedangkan teknologi yang ia bangun di Pixar
menjadi jantung kebangkitan Apple di masa kini.
Apple menjadi pemimpin inovasi dalam industri dekstop dan
notebook, operating system, musik digital dengan perangkat
iPod dan iTunes, toko musik online-.
Sedangkan Pixar menjadi penghasil film-film animasi box office
dan pemenang Oscar, seperti Toy Story, A Bugs Life,
Monsters Inc., Finding Nemo dan The Incredibles.
Kini Steve Jobs bisa berkata bahwa pernah dipecat dari
Apple adalah hal terbaik yang pernah terjadi pada dirinya.Ibarat meminum sebuah pil pahit. Tetapi apa yang membuat
Jobs bangkit dan terus maju adalah keyakinan dan
kecintaannya pada apa yang ia kerjakan. Karena bagi Jobs,
itu adalah satu-satunya cara mendapatkan hasil pekerjaan
yang terbaik.
Steve Jobs adalah satu dari sekian nama entrepreneur sukses
yang dropped out dari universitas, selain Bill Gates dari
MicroSoft Inc. dan Michael Dell dari Dell Computer Corp. Ia
memutuskan keluar dari Reed College karena kasihan pada
orang tua angkatnya yang harus membiayai pendidikannya yang
mahal.
Di usia 20 tahunan, ia dan Steven Wozniak membangun cikal
bakal komputer Macintosh di garasi rumah orang tuanya. Di
tahun 1976, mereka berhasil mempopulerkan konsep personal
computer pada dunia. Dan dalam 10 tahun, dua sekawan ini
berhasil membangun Apple menjadi perusahaan beraset 2
miliar dollar dan memiliki lebih dari 4.000 karyawan.
Tetapi di saat ia berumur 30 tahun, Jobs harus menerima
kenyataan pahit. Ia dipecat oleh Board of Director dari
perusahaan yang didirikannya, karena kegagalan visinya dan
kejatuhan Apple di kala itu.
Ketika itu Jobs merasa hancur, malu, impiannya hilang dan
tidak mampu melakukan apa-apa selama berbulan-bulan. Sampai
kemudian ia bertemu dengan David Packard dan Bob Noyce, ia
pun mencoba memaafkan kesalahan-kesalahan yang pernah
diperbuatnya.
Tapi ada satu yang tak berubah, walaupun ia pernah ditolak,
Jobs masih mencintai, bahkan sangat mencintai apa yang
dikerjakannya. Maka ia pun berusaha untuk bangkit, memulai
segala sesuatunya dari awal lagi.
Lima tahun kemudian, Jobs mendirikan perusahaan Pixar
Animation Studios yang membuat film animasi komputer
pertama di dunia -Toy Story- dan berhasil memenangkan
penghargaan Oscar sebagai film animasi terbaik. Dan tak
lama kemudian ia bertemu dan jatuh cinta dengan perempuan
yang kini menjadi istrinya.
Beberapa waktu kemudian, Apple membeli Pixar dan Jobs pun
kembali menduduki jabatannya di perusahaan yang dulu ia
dirikan. Sedangkan teknologi yang ia bangun di Pixar
menjadi jantung kebangkitan Apple di masa kini.
Apple menjadi pemimpin inovasi dalam industri dekstop dan
notebook, operating system, musik digital dengan perangkat
iPod dan iTunes, toko musik online-.
Sedangkan Pixar menjadi penghasil film-film animasi box office
dan pemenang Oscar, seperti Toy Story, A Bugs Life,
Monsters Inc., Finding Nemo dan The Incredibles.
Kini Steve Jobs bisa berkata bahwa pernah dipecat dari
Apple adalah hal terbaik yang pernah terjadi pada dirinya.Ibarat meminum sebuah pil pahit. Tetapi apa yang membuat
Jobs bangkit dan terus maju adalah keyakinan dan
kecintaannya pada apa yang ia kerjakan. Karena bagi Jobs,
itu adalah satu-satunya cara mendapatkan hasil pekerjaan
yang terbaik.
Subscribe to:
Posts (Atom)








